SURPRISE !
Malam itu , tiga sahabat berkumpul. Dana, Galih, dan Ditta. Mereka semua hendak memberikan kejutan ulang tahun temannya yang bernama Made. Semua panitia sudah berkumpul di depan rumah korban. Galih yang dari tadi berusaha bersikap ramah dan sok PDKT sama Ditta tidak bisa berhenti membayangkan apa yang akan terjadi dengan Made begitu dunia berganti hari, dan semua dimulai dari pukul 00.00 dini hari. Dana terlihat lebih tenang. Dana turun dari motornya sambil mengambil barang dari mobil Galih. Sebuah kue ulang tahun yang terbuat dari cokelat 100%, dilapisi dengan kacang almond dan lilin berbentuk angka 18. Tidak lupa Dana juga mengambil salah satu benda ritual yang sangat ditunggu – tunggu oleh Galih, 1 kardus botol bir yang siap untuk disantap semalaman. Ditta yang terlihat sibuk menyiapkan rundown acara, berusaha mengatur waktu secara tepat dan cermat, agara acara ini menjadi acara yang spesial bagi Made. Ditta-lah yang menjadi ide dari semua rencana gila ini.
Ucapan terima kasih sudah seharusnya dihaturkan kepada Ditta, karena berkat kemampuanya dalam persuasi, pembantu keluarga Made yang ikut bersama Made ke Bali, diberi hari bebas dari bekerja untuk menikmati pulau dewata di malam hari. Maklum , pembantu ini masih tergolong berumur produktif, sekitar 30 tahun. Bahkan Ditta juga sudah meminta kunci rumah Made dari pembantunya jauh hari sebelumnya. Malam itu Ditta yang memimpin Dana dan Galih untuk menyusup masuk ke rumah Made. Sebuah rumah mewah di kawasan Kori Nuansa Utama Selatan Jimbaran ini mirip dengan rumah adat Bali. Ukiran – ukiran yang khas memenuhi tiap ruangan, serta patung – patung dewa hampir terletak di setiap sudut ruangan. Dana terlihat agak merinding begitu memasuki rumah Made.
Sampailah di depan kamar Made. Pintu kayu yang berwarna cokelat kehitaman itu dibuka secara pelan – pelan. Dingin-nya AC langsung merebak dari dalam kamar yang terang. Made meringkuk di dalam kasurnya seperti bayi yang sedang tertidur lelap di tengah dinginnya suhu ruangan. Nyaman sekali. Langsung saja Galih yang sudah membawa ember berisikan air dari kamar mandi langsung mendekati ranjang, lalu mengguyur Made yang sedang tertidur pulas. Seketika itu juga rasa dingin yang amat menusuk seluruh tulang Made, diiringi dengan rasa terkejut dan berteriak kedinginan. Made sudah terbangun. Sepintas dilihatnya 3 temannya yang sudah membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala. Made masih setengah tersadar. Ditta tersenyum, sambil mendekatkan kue tersebut ke Made yang sudah basah kuyup. Made masih saja setengah tersadar, namun kali ini emosinya mulai mereda. Sebuah senyum kecut tersirat di wajah Made. Begitu sudah menerima kenyataan yang sedang terjadi di dunia nyata, bahwa ini hari ulang tahunnya, Dana yang entah kapan sudah duduk di kasur, segera menutup mata Made dengan sebuah kain hitam pekat. Lalu Galih berusaha menggendong Made keluar dari ruang bawah tanah di rumahnya. Semua tertawa sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Semua tertawa, tidak untuk Made. Made berteriak sekuat – kuatnya , memaki temannya, memohon untuk tidak melakukan hal yang satu ini. Makian terus berlanjut, bahkan Made sampai ingin menangis. Namun semua itu percuma.
Dengan mata tertutup Made merasakan aroma kayu dan benda usang di sekitarnya. Ini adalah ruang bawa tanah. Mata Made masih tertutup oleh kain hitam. Setelah Made diturunkan, Galih langsung mendorong Made hingga terjatuh dari tangga bawah tanah. Galih langsung mengunci pintu kamar bawah tanah. Semua tertawa, tidak untuk Made. Dengan tangan gemetar, Made langsung membuka ikatan kain hitam di matanya. Gelap. Masih gelap. Made merasakan kegelapan total di dalam dirinya, dan lingkungan sekitarnya. Dengan sayup – sayup terdengar suara – suara temannya yang sedang tertawa jauh dari sana.
“ANJING ELO SEMUA ! BUKA PINTUNYA BANGSAT ! GUA TAKUT ! WOI ! BENERAN BUKA PINTUNYA ! .... PLEA...PLEA...SE.. GUA TAKUT BANGET !” Teriakan yang disertai oleh isak tangis sekeras – kerasnya sudah dikerahkan oleh Made. Tidak ada yang mendengar. Semuanya gelap. Mereka tertawa, tidak untuk Made. Made yang amat panik langsung bersusah payah ke tangga bawah tanah, menggedor pintu sekeras mungkin.
BAM BAM BAM BAM !
“BUKA PINTUNYA PLEASE TEMAN ! GUA MOHON !” Dentuman dari pintu bawah tanah sangat keras. Terdengar amat jelas oleh Ditta, Dana, dan Galih. Dana merasa dentuman ini tidak normal. Seperti seseorang yang sangat kuat yang mendetumnya. Orang yang memiliki tenaga yang amat besar. Ditta mulai merasa panik dan kasihan, sambil gemetar melihat ke arah. Galih yang masih berada di kamar Made untuk memakan kue ulang tahun , memainkan Macbook milik Made. ‘Nyctophobia : Phobia of the Dark’, begitulah apa yang terdapat di layar ketika Galih menyentuh Macbook tersebut. “If your nyctophobia is severe, you might become angry or defensive if anyone tries to encourage you to spend time in the dark.” Menyadar ada sesuatu yang tidak beres, Galih langsung berlari ke bawah untuk memberitakan hal yang penting kepada Dana dan Ditta.
Dentuman dari pintu masih terasa sangat keras, bahkan ritme nya semakin bertambah. Teriakan dari Made semakin menjadi – jadi. Namun kali ini sesuatu yang sangat tidak masuk akal terjadi. Teriakan yang terdengar sangat melengking melebihi range vocal dari Made. Dan seketika itu juga Made berteriak dengan suara yang sangat rendah. Keadaan semakin tidak terkendali. Galih yang kaget bukan main langsung berinisiatif untuk membuka pintu kamar bawah tanah.
“JANGAN GAL ! JANGAN !” Dana langsung berteriak sambil mencegah Galih maju.
“MINGGIR ELO NYET ! ENGGAK LIHAT TEMAN KITA BEGITU? DIA PHOBIA GELAP !”
“TAHU DARI MANA ? “
“GUA HABIS LIHAT DI LAPTOPNYA !DIA BROWSING TENTANG NYCTOPHOBIA.”
“LO MASIH MERASA ITU PHOBIA? INI UDAH DILUAR KEWAJARAN ! LO DENGERIN TERIAKANNYA !”
Keadaan menjadi semakin kacau. Ditta menangis. Dana dan Galih terlihat sangat bingung dan kacau. Di tengah kebingungan, tiba – tiba Ditta menerima BBM.
“Ditta ! Sampaikan maaf gua ke Dana dan Galih ya! Gua mendadak balik ke Jakarta. Soalnya ada keluarga yang balik ke Jakarta. Besok kita main – main lagi yak !” – Aditya Made Nyoman.
Ditta sangat terkejut melihat BBM tersebut. Keadaan menjadi semakin kacau dan rumit. Suara dentuman dari dalam pintu bawah tanah sudah berhenti. Kemudian terdengar suara tawa yang amat berat dari dalam pintu. Ditta tahu itu waktunya bagi mereka bertiga bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang.